Tuesday, 8 December 2015

contoh laporan jurnal UPAYA GURU PEMBIMBING MENINGKATKAN KETERAMPILAN BELAJAR SISWA



UPAYA GURU PEMBIMBING MENINGKATKAN
KETERAMPILAN BELAJAR SISWA
                                                                                    

Abstract

This research aimed to get the profile of efforts of guidance teachers in improving students’ learning skills. It is hoped that this research is useful for guidance teachers, subject teachers and student as well in improving their learning skills. This research was conducted using descriptive approach in which there were qualitative an quantitave data. The subjects of this research were students and guidance teachers of  Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Pekanbaru. The findings of this research  revealed that the learning skill quality of the students was low while their learning problems were on medium level. Guidance given gy guidance teachers to students to master learning skills was not yet optimal. There was cooperation among teachers and guidance teachers but it was still limited to physics teachers and it had skills came from both guidance teachers and students themselves

Kata Kunci: Upaya guru pembimbing, keterampilan belajar

A.    Pendahuluan
      Keterampilan belajar harus dimiliki oleh seorang siswa apabila diharapkan dapat mencapai kesuksesan.Seringkali siswa mengalami kegagalan dalam belajar terutama dalam penguasaan materi pelajaran disebabkan karena kurangmya keterampilan yang dimiliki dalam belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Prayitno (1997), bahwa siswa dituntut untuk memiliki keterampilan dalam belajar sehingga ia dapat menguasai materi pelajaran dengan berbagai tuntutannya serta berupaya mengembangkan diri dalam segenap bidang dan dimensi kehidupannya.
       Penguasaan terhadap materi pelajaran tidak didapatkan begitu saja, tetapi harus ada berbagai usaha, serangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa. Di samping itu siswa tersebut harus memiliki seperangkat keterampilan belajar untuk memudahkannya memperoleh keberhasilan belajar. Keberhasilan belajar mencakup keberhasilan dalam mengembangkan dan merealisasikan seluruh potensi yang dimiliki siswa dalam realitas kehidupan. Lebih jauh sukses seorang pelajar dapat ditandai dengan kematangan kepribadian sehingga mampu berinteraksi dengan lingkungan secara baik. Minimal keberhasilan siswa dalam bentuk tercapainya mutu belajar yang tinggi dan tidak mengalami permasalahan  dalam belajar
        Dalam realitas  di lapangan, keterampilan belajar belum diperhatikan, belum dikuasai, dan belum dilakukan siswa dengan baik. Hal ini mengindikasikan bahwa keterampilan belajar bagaimana pun penting dan perlunya dalam belajar tetapi masih terbatas pada tataran teori, belum menjadi prioritas dari pendidik untuk diberikan kepada siswa. Apabila kegiatan belajar tidak didasarkan pada keterampilan  akan membawa sederet persoalan dalam belajar, baik ketika di sekolah, di rumah maupun ketika berinteraksi dengan lingkungan sekitar mereka. Ujung dari semua itu dapat diramalkan bahwa siswa akan mengalami kegagalan dalam memperoleh keberhasilan belajar bahkan dalam hidup itu sendiri.
        Keterampilan belajar juga harus dimiliki oleh siswa dalam rangka proses pencapaian tujuan belajar berupa perubahan tingkah laku. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudjana dkk (1984) bahwa, belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku, peristiwa belajar bukanlah menghafal atau hanya sekadar mengingat, melainkan suatu kegiatan yang ditandai dengan adanya perubahan dalam diri seseorang.  Belajar juga dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku akibat adanya interaksi individu dengan lingkungannya. Ahmadi  (1986) mendifinisikan belajar sebagai rangsangan kegiatan jiwa dan raga, psikofisik menuju ke perkembangan pribadi individu seutuhnya yang menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah afektif, kognitif dan psikomotorik.
Kajian Teori
         Belajar dapat didefinisikan sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman, sebagaimana dikemukakan James O. Wittaker (dalam Suryabrata. 1990),  Learning may be defined as the process by which behavior originates or is altered throught training or experience”. Dengan demikian, perubahan-perubahan tingkah laku akibat pertumbuhan fisik atau kematangan, kelelahan, penyakit, atau pengaruh obat-obatan adalah tidak termasuk sebagai belajar. Cronbach juga menyatakan: “Learning is shown by change in behavior as a result of experience.” (Cronbach, 1954: 47). Dengan demikian, belajar yang efektif adalah melalui pengalaman. Dalam proses belajar, seseorang berinteraksi langsung dengan objek belajar dengan menggunakan semua alat indranya. Sedangkan Howard L. Kingsley (dalam Satmoko. 1999) menyatakan sebagai berikut: “Learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed through practice or training.” (Kingsley, 1957:12). Definisi tersebut dapat diartikan, bahwa belajar adalah proses di mana tingkah laku (dalam artian luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau pelatihan.
        Keterampilan belajar perlu dikuasai siswa karena belajar merupakan kegiatan yang mempunyai tujuan. Tujuan belajar menurut Wahono (1998:32) adalah untuk memperoleh pengetahuan, kecakapan, pengalaman, dan sikap  yang diperlukan untuk kesuksesan hidup.
       Keterampilan belajar dapat diartikan sebagai seperangkat sistem, metode, dan teknik yang baik dalam usaha menguasai materi pengetahuan yang disampaikan guru secara  tangkas, efektif dan efisien (Gie, 1995:13). Kegiatan belajar seharusnya dilaksanakan dengan menerapkan berbagai keterampilan yang meliputi keterampilan dasar membaca, menulis, menghitung, keterampilan mengikuti pelajaran di dalam kelas, membuat catatan, bertanya, dan menjawab (baik lisan,  maupun tulisan), mengerjakan tugas, membuat laporan, menyusun makalah, menyiapkan dan mengikuti ujian, serta menindaklanjuti hasil mengerjakan tugas, ulangan, atau ujian (Prayitno, 1988:8).
      Bentuk-bentuk keterampilan belajar dalam penelitian ini yang diharapkan dapat dikuasai siswa atau peserta didik, antara lain: (1) keterampilan dasar/pokok, Lanner dalam Abdurrahman (1999:200) menyebutkan bahwa keterampilan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Ellis (1978) menyatakan bahwa: from 75 percent of assigned school work requires go to read. Artinya dari 75 persen kegiatan sekolah adalah membaca. (2) Keterampilan Akademik
      Menurut Gie (1995:8) kewajiban utama dari seorang siswa atau mahasiswa yang sedang studi adalah belajar karena berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Masalah yang sering muncul terkait dengan keterampilan mengikuti pelajaran menurut Prayitno dkk (1997.a:3) bahwa secara khusus masalah yang sering muncul adalah kesulitan dalam mempersiapkan kondisi fisik, tidak mempersiapkan bahan dan peralatan belajar, tidak hadir dalam kuliah atau sering absen, memilih tempat duduk yang tidak strategis, sukar bertanya,  tidak mengemukakan pendapat, dan catatan tidak lengkap (3) Keterampilan Pendukung sebagai berikut: (a) Keterampilan dalam Meningkatkan Konsentrasi.    Menurut Ellis (1978:123) ada lima kebiasaan yang baik yang mesti dikembangkan berdasarkan teori dan kajian tentang keterampilan dalam meningkatkan konsentrasi. Kebiasaan tersebut adalah:            Understand the objective of what is being studied, Focus attention on the study materials, Arrange contigencies of the reinforcement, Organize the materials, Practice retrieval (b)  Keterampilan dalam Menghafal  Pelajaran (c) Keterampilan dalam Mengelola Waktu Belajar

Keterampilan belajar yang harus dimiliki oleh siswa dapat ddiusahakan melalui peran guru pembimbing. Hal ini ddikarenakan guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh dalam kegiatan BK terhadap sejumlah peserta didik, termasuk dalam memberikan layanan BK kepada semua peserta didik di sekolah tempat dia bertugas dalam rangka mengantarkan peserta didik tersebut mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara optimal.
Mortensen dan Schmuller  (1964:200) berpendapat bahwa terdapat lima tugas konselor sekolah, yaitu:
1.        Provinding the students an oppurtunity to talk through his problems.
2.        Counseling with potential droupouts.
3.        Counseling with student concerning academic failure.
4.        Counseling with students in evaluating personal assets and limitations and,
5.        Counseling with students concerning learning difficulties.

           Winkel (1985:167) melihat perlunya kehadiran  guru pembimbing di sekolah terutama untuk mendampingi siswa agar lebih mampu dan lebih manusiawi, sehingga ia menjadi warga sekolah yang lebih setia, dan anggota masyarakat yang berguna. Selanjutnya, Prayitno dkk (1997.a:189-190) menyatakan bahwa tugas guru pembimbing adalah: 1) memasyarakatkan pelayanan BK, 2) merencanakan program BK, 3) melaksanakan segenap program satuan layanan BK, 4) melaksanakan segenap program kegiatan pendukung BK, 5) menilai proses dan hasil pelaksanaan satuan layanan dan kegiatan pendukung BK, 6) menganalisis hasil penilaian layanan dan kegiatan pendukung BK, 7) melaksanakan kegiatan tindak lanjut  berdasarkan hasil penilaian layanan dan kegiatan pendukung BK.
           Terkait dengan tanggung jawab guru pembimbing tersebut Erickson dalam Mortensen dan Schmuller  (1964:204) mengemukakan bahwa kegiatan BK di sekolah meliputi: Individual inventory, the counseling, the information service, the placement  service, and the followed service. Berdasarkan pernyataan ini dapat diketahui bahwa pelayanan BK mencakup: pengumpulan data individual, konseling, layanan informasi, layanan penempatan, dan layanan tindak lanjut.
      Dalam pelaksanaan layanan pembelajaran khususnya berkenaan dengan keterampilan belajar siswa di sekolah, guru pembimbing dan guru mata pelajaran dapat menjalin kerjasama dalam mengadakan kegiatan yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan siswa.
         Kegiatan layanan pembelajaran terutama berkenaan dengan ketrampilan belajar kepada siswa seringkali belum dapat berjalan sebagaimana yang direncanakan dengan berbagai alasan dan kendala baik yang datang dari pihak guru pembimbing maupun siswa itu sendiri. Hambatan dari pihak guru pembimbing antara lain adalah keterbatasan waktu, kemampuan dan kemauan dan lain sebagainya, sedangkan kendala yang timbul dari siswa adalah kurangnya minat dan motivasi dalam mengikuti layanan  pembelajaran khususnya yang berkenaan dengan keterampilan belajar serta keengganan siswa mengungkapkan permasalahan yang berkenaan dengan keterampilan belajar kepada guru pembimbing.
       Kendala lain yang mungkin timbul dalam peningkatan keterampilan belajar siswa adalah adanya persepsi guru lain terutama dalam hal ini guru mata pelajaran dan pihak lain yang terkait tentang pentingnya keterampilan dan pengentasan masalah-masalah belajar dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
         Permasalah dalam penelitian ini adalah: 1) bagaimana mutu, masalah dan bentuk keterampilan yang dimiliki oleh siswa, 2) apa keterampilan belajar yang dikembangkan guru pembimbing, dan 3) bagaimana kerjasama da kendala yang ditemui  dalam peningkatan keterampilan belajar siswa.
       Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana upaya guru pembimbing dalam meningkatkan keterampilan belajar siswa. Sedangkan secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang: 1) kualitas, permasalahan dan keterampilan belajar yang dimiliki siswa, 2) keterampilan yang dikembangkan oleh guru pembimbing, 3) kerjasama guru pembimbing dengan personil sekolah, 4) kendala dan solusi yang dihadapi guru pembimbing.
       Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi: 1) kepala sekolah, untuk dapaat memberikan arahan dan kebijakan berkenaan dengan pelaksanaan BK terutama berkenaan dengan keterampilan belajar, 2) guru pembimbing, untuk lebih dapat mengembangkan keterampilan belajar kepada siswa secara lebih memadai dan menjalin kerjasama dengan guru mata pelajaran dan pihak sekolah lainnya dengan lebih baik, 3) siswa, untuk dapat lebih menggunakan layanan BK secara lebih baik terutama dalam peningkatan keterampilan belajarnya.

Metode Penelitian
     Penelitian ini dirancang dengan pendekatan deskriptif yang menggambarkan fakta-fakta sesuai dengan keadaan  objek penelitian yaitu upaya guru pembimbing meningkatkan keterampilan belajar siswa. Keterampilan belajar tersebut adalah meliputi keterampilan pokok, keterampilan akademik dan keterampilan pendukung untuk memperlancar kesuksesan belajar. Sedang upaya guru pembimbing dalam meningkatkan keterampilan belajar siswa ini meliputi, program yang disusun guru pembimbing, kegiatan yang dilaksanakan dan keterampilan yang dilatihkan oleh guru pembimbing terhadap siswa.
     Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas I, II, dan III, sebanyak 790 orang sebagaimana dan seluruh guru pembimbing yang ada di SMA Negeri 4 Pekanbaru  berjumlah 4 orang. Sedangkan Jumlah sample adalah 139 dengan perincian kelas 1.6 sebanyak 45 orang, kelas II.5 sebanyak 49 orang dan ke;as III IPS 2 sebanyak 45 orang. Sedangkan guru pembimbing yang dipilih sebagai sampel penelitian ini adalah 4 orang.
     Data penelitian ini dikelompokan kepada dua jenis, yaitu data yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari instrumen penelitian berupa AUM PTSDL Format-2 dan angket yang diberikan kepada siswa. Data kualitatif diperoleh dari informan, seperti informasi,  keterangan dan gagasan yang diperoleh melalui wawancara dengan guru pembimbing,   guru mata pelajaran, wali kelas, dan kepala  SMA Negeri 4 Pekanbaru.
       Untuk pengumpulan data,  peneliti menggunakan  teknik AUM PTSDL Format-2 untuk siswa SLTA dan memeriksa  lebih lanjut  butir-butir AUM PTSDL itu yang mengungkapkan keterampilan belajar khususnya tentang skor kegiatan belajar siswa dan masalah belajar siswa yang berkenaan dengan keterampilan belajar. Setelah dilakukan pencermatan terhadap AUM PTSDL ditemukan sebanyak 75 butir item AUM PTSDL yang berkaitan dengan keterampilan belajar.  AUM PTSDL Format-2 merupakan alat ungkap yang sudah baku dengan indeks kesahihan (validitas) 0,86 artinya indeks tersebut memperlihatkan tingkat kesahihan AUM PTSDL-2 tinggi. Demikian  juga dengan tingkat keterandalan (reliabilitas) 0,76. Artinya indek ini memperlihatkan tingkat keterandalan AUM PTSDL-2 juga tinggi.  Instrumen ini digunakan untuk mengetahui  skor mutu kegiatan belajar siswa dan masalah belajar yang dialami siswa. Pemakaian AUM PTSDL sebagai instrumen penelitian melalui izin dari penyusunnya yaitu Prayitno (1997). Izin pemakaian AUM PTSDL dapat dilihat pada lampiran.
       Butir-butir AUM PTSDL Format-2 untuk siswa SLTA jumlahnya 165 butir, terdiri dari bidang prasyarat penguasaan materi pelajaran (P) sebanyak 20 butir, bidang keterampilan (T) sebanyak 75 butir, bidang sarana belajar (S) sebanyak 15 butir, bidang diri pribadi (D) sebanyak 30  butir, dan bidang lingkungan sosio-emosional (L) sebanyak 25 butir. Dalam penelitian ini yang diambil adalah butir AUM PTSDL bidang keterampilan (T) sebanyak  75 butir.
      Angket yang diberikan kepada siswa untuk melihat kegiatan yang mereka lakukan maupun materi yang mereka terima dari guru pembimbing berkaitan dengan keterampilan belajar yang diberikan  oleh guru pembimbing. Angket ini berisi sejumlah pertanyaan yang disertai dengan alternatif jawaban yang mana siswa diharapkan memilih jawaban sesuai dengan kondisi yang mereka alami digunakan dalam mengumpulkan data kualitatif, dengan meminta penjelasan secara lisan kepada guru pembimbing maupun guru lain, tentang upaya yang mereka lakukan baik secara sendiri-sendiri maupun  melalui kerjasama dalam meningkatkan keterampilan belajar   siswa di sekolah tersebut. Di samping itu peneliti juga akan mengggunakan wawancara tidak terstruktur untuk mendalami informasi yang telah didapatkan dengan mewawancarai informan berikutnya, yang ditentukan berdasarkan informan sebelumnya.
        Dokumen yang diperoleh dalam penelitian ini, antara lain hasil pelaksanaan  layanan BK berupa satuan  layanan (sa tlan) satuan  pendukung (satkung) yang dihimpun oleh guru pembimbing. Pengkajian terhadap dokumen ini untuk mendapatkan data tentang siswa dan aktivitas belajarnya melalui dokumen di sekolah. Sedangkan analisis penelitian ini  dilaksanakan dengan menggunakan dua macam teknik analisis, yaitu analisis statistik dan analisis naratif.

Hasil Penelitian
       Mutu bidang keterampilan belajar yang dimiliki siswa yang paling banyak berada pada skor 31 sampai dengan 40 sebanyak 27 (20 %) siswa. Hal  ini berarti bahwa mutu keterampilan belajar siswa masih kurang. Berdasarkan pengolahan data terhadap 135 orang siswa sebagai responden, diperoleh jumlah masalah tertinggi adalah 46 dan jumlah masalah terendah 7, masalah belajar siswa bidang keterampilan belajar sebanyak 20,74 %. Hal ini berarti bahwa masalah siswa bidang keterampilan belajar tidak terlalu banyak. Seharusnya guru pembimbing  melatihkan keterampilan belajar dengan lebih banyak lagi sehingga  masalah sisswa bidang keterampilan belajar dapat hilang sama sekali.
       Bentuk-bentuk keterampilan belajar yang dimiliki siswa dapat diketahui  dari hasil pengadministrasian angket kepada siswa sebagaimana  tabel di bawah ini:
Tabel 1. Bentuk Keterampilan Belajar  Siswa
No
Bentuk
Aspek
F
%

1

Kegiatan dan keterampilan belajar di dalam kelas

A.  Mendengarkan uraian guru

B.     Mencatat dengan rapi
C.     Mengajukan pertanyaan
D.    Menanggapi gagasan teman
E.     Menjawab soal-soal
F.      Merangkum isi materi  pelajaran
G.    Memperbaiki kekeliruan catatan

90
   75
39
28
72
16
10

66,6
55,5
28,8
20,7
53,3
11,8
7,40


2

Kegiatan dan keterampilan belajar di luar kelas

A.    Mengelola waktu belajar
B.     Membuat ringkasan buku yang dibaca
C.     Mendiskusikan pelajaran dengan teman
D.    Meningkatkan konsentrasi belajar
E.     Mengulang pelajaran
F.      Membaca buku
G.    Les
H.    Menterjemahkan bahasa asing

39

32

60
62
18
12
9
7

28,8

23,7

44,4
45,9
13,3
8,8
6,6
5,1


Keterampilan belajar yang dilatihkan oleh guru melalui tujuh jenis layanan bimbingan dan konseling adalah sebagaimana table berikut:

    Tabel 2. Jenis Keterampilan Belajar yang Dilatihkan Guru pembimbing
Aspek
Penjelasan
F
%

Keterampilan belajar yang diberikan oleh guru pembimbing

A.    Keterampilan membaca

33

24
B.    Keterampilan berbahasa
53
39,2
C.    Keterampilan memahami bacaan
54
40
D.    Keterampilan bertanya
69
51,1
E.     Keterampilan Menjawab soal ujian
59
43,7
F.     Keterampilan menulis dan mencatat
50
37
G.        Keterampilan menangkap suatu gagasan
42
31,1
H.        Keterampilan berkonsentrasi
32
23,70
I.    Keterampilan membuat ringkasan
28
20,74
G.        Keterampilan menyusun makalah
7
5,18
H.        Keterampilan menyelesaikan masalah
4
2,96


     Sekolah dalam meningkatkan keterampilan belajar siswa, kerjasama yang  diselenggarakan guru pembimbing dengan pihak lain di sekolah, dapat diketahui pada tabel  berikut ini.
Tabel 3. Kerjasama Guru pembimbing dengan Guru Mata Pelajaran dan Pihak Sekolah untuk Meningkatkan Keterampilan Belajar Siswa
No
Bentuk
Aspek
F
%

1

Bentuk kerjasama guru pembimbing dengan pihak lain untuk meningkatkan keterampilan belajar siswa


A.   Masuk lokal dg wali kelas
B.   Membuat program bersama untuk melatih membaca cepat
C.   Melibatkan GMP dalam menyusun program BK
D.   Guru pembimbing meninjau hasil belajar siswa

18

4

50

15

13,3

2,9

37,03

11.1
cakupan, antara lain: 1) menciptakan lingkungan belajar yang baik, 2) keterampilan pokok, yaitu keterampilan dalam membaca buku, 3) keterampilan akademik, seperti keterampilan mengikuti pelajaran, keterampilan mencatat, keterampilan menggunakan pustaka, dan keterampilan menempuh ujian. 4) keterampilan pendukung, seperti keterampilan berkonsentrasi, keterampilan mengulang pelajaran, dan keterampilan membagi waktu setiap hari.
         Berdasarkan temuan di atas dapat diketahui bahwa kerjasama guru pembimbing menurut siswa pada umumnya lebih banyak melibatkan guru mata pelajaran dalam bentuk penyusunan program BK. Sedangkan hasil yang diperoleh dari kerjasama tersebut lebih banyak dalam bentuk meningkatnya prestasi belajar siswa.
       Kendala yang ditemukan oleh guru pembimbing dalam melaksanakan dan meningkatkan  keterampilan belajar siswa adalah keterbatasan guru pembimbing dalam memberikan layanan kepada siswa. Di samping itu guru pembimbing juga mengalami kesulitan, antara lain 1) siswa belum merasakan manfaat dari kegiatan tersebut. 2)  guru pembimbing dalam melaksanakan tugasnya lebih banyak menunggu  dari pada mencari siswa yang bermasalah pada keterampilan belajar. Terkait dengan peningkatan keterampilan belajar maka upaya-upaya peningkatan efektifitas pelaksanaan bimbingan keterampilan belajar terhadap siswa adalah: 1) meningkatkan sarana dan prasarana, 2) Peningkatan profesionalisme guru pembimbing.

Simpulan dan Saran
      Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk keterampilan belajar yang dimiliki siswa SMA Negeri 4 Pekanbaru dapat dilihat dari skor mutu kegiatan belajar yang kebanyakan berada pada kolompok rendah  dan masalah berada pada kelompok sedang. Keterampilan belajar siswa lebih banyak  dalam bentuk mendengarkan uraian guru, meningkatkan konsentrasi dan keterampilan bergaul, jenis keterampilan belajar yang diberikan dan dilatihkan oleh guru pembimbing terhadap siswa telah mencakup ketrampilan pokok, keterampilan akademik dan ketrampilan penunjang, namun volumenya masih terbatas dan belum maksimal.
       Kerjasama guru pembimbing dengan guru mata pelajaran dan pihak lain telah dilaksanakan terutama dengan guru mata pelajaran eksakta  yaitu matematika, fisika dan kimia dalam bentuk pengajaran perbaikan dan remedial  dengan memberikan ketrampilan belajar tertentu untuk menguasai rumus-rumus dan juga dalam bentuk keterlibatan dalam penyusunan program BK, namun kerjasama tersebut masih terbatas dan belum terprogram dengan baik. Di samping itu, kendala yang dihadapi guru pembimbing dalam meningkatkan keterampilan belajar siswa dapat dikelompokkan menjadi dua macam yakni masalah yang datang dari guru pembimbing seperti adanya keterbatasan waktu, kemampuan dan kemauan yang dimiliki guru pembimbing, sedangkan masalah yang datang dari siswa adalah kurangnya minat dan kurang aktif serta enggan membicarakan masalahnya dengan guru pembimbing. Untuk mengatasi masalah tersebut guru pembimbing telah membuat berbagai kebijakan, kerjasama dengan pihak lain yang terkait serta senantiasa mengasah kemampuannya dalam memberikan pelayanan BK kepada siswa.

       Berdasarkan kesimpulan di atas, maka disarankan agar  kepala sekolah, diharapkan untuk lebih memperhatikan pelaksanaan BK di sekolah yang dipimpinnya terutama dalam penyediaan dan pengadaan sarana-prasarana umumnya dan khususnya usaha dalam peningkatan keterampilan belajar siswa. Selain itu, guru pembimbing diharapkan untuk lebih memberikan keterampilan belajar kepada siswa secara lebih memadai sehingga skor mutu belajar siswa meningkat dan masalah keterampilan belajar siswa menurun atau bahkan bila mungkin siswa tidak bermasalah dan sedapat mungkin bekerja sama, baik dengan guru mata pelajaran maupun pihak lain terkait di sekolah dalam rangka meningkatkan keterampilan belajar siswa tersebut.


Daftar Pustaka

Abdurahman dan Mulyono. (1999). Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. Jakarta: Gramedia

Abu Ahmadi. (1986) Metode khusus pendidikan. Bandung: Amrico

Cronbach. Lee J. (1954). Educational psychology. New Harcourt, Grace

Ellis. C.H. (1978) Fundamental of human learning, memory, and cognition. New York: Brown Company Publisher

Gie.T.L. (1995). Cara belajar yang efisien: sebuah buku pegangan untuk mahasiswa Indonesia ( jilid II) Yogyakarta: Liberty

Montensen D.G. dan Schemuller. A.M. (1964). Guidance in today’s school. New York: Mc Milan Hill.

Nana Sudjana. (1984). Proses belajar mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

Prayitno. (1988). Orientasi bimbingan dan konseling. Jakarta: Depdikbud.

Prayitno, dkk.  (1997.a). Seri pemandu pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah. Jakarta: Ikrar Mandiri.

________. (1997.b). Pedoman AUM PTSDL. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti

________. (1997.c). Seri latihan keterampilan belajar. Jakarta: Tim Pengembang 3SCPD Proyek PGSM Dikti Depdikbud.

Satmoko. (1999). Psikologi tentang penyesuaian penyesuaian dan hubungan kemanusiaan. Semarang: IKIP

Sumadi Suryabrata. (1990). Psikologi pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Wahono Ahmadi. (1998). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

W.S Winkel. (1985) Bimbingan dan konseling di sekolah menengah. Jakarta: Gramedia

No comments:

Post a Comment