UPAYA GURU PEMBIMBING MENINGKATKAN
KETERAMPILAN BELAJAR SISWA
Abstract
This research aimed to
get the profile of efforts of guidance teachers in improving students’ learning
skills. It is hoped that this research is useful for guidance teachers, subject
teachers and student as well in improving their learning skills. This research
was conducted using descriptive approach in which there were qualitative an
quantitave data. The subjects of this research were students and guidance
teachers of Sekolah Menengah Atas Negeri
4 Pekanbaru. The findings of this research
revealed that the learning skill quality of the students was low while
their learning problems were on medium level. Guidance given gy guidance
teachers to students to master learning skills was not yet optimal. There was
cooperation among teachers and guidance teachers but it was still limited to
physics teachers and it had skills came from both guidance teachers and
students themselves
Kata Kunci: Upaya guru pembimbing, keterampilan
belajar
A.
Pendahuluan
Keterampilan belajar harus dimiliki oleh
seorang siswa apabila diharapkan dapat mencapai kesuksesan.Seringkali siswa
mengalami kegagalan dalam belajar terutama dalam penguasaan materi pelajaran
disebabkan karena kurangmya keterampilan yang dimiliki dalam belajar. Hal ini
sesuai dengan pendapat Prayitno (1997), bahwa siswa dituntut untuk memiliki
keterampilan dalam belajar sehingga ia dapat menguasai materi pelajaran dengan
berbagai tuntutannya serta berupaya mengembangkan diri dalam segenap bidang dan
dimensi kehidupannya.
Penguasaan terhadap materi pelajaran
tidak didapatkan begitu saja, tetapi harus ada berbagai usaha, serangkaian
kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa. Di samping itu siswa tersebut harus
memiliki seperangkat keterampilan belajar untuk memudahkannya memperoleh
keberhasilan belajar. Keberhasilan belajar mencakup keberhasilan dalam
mengembangkan dan merealisasikan seluruh potensi yang dimiliki siswa dalam
realitas kehidupan. Lebih jauh sukses seorang pelajar dapat ditandai dengan
kematangan kepribadian sehingga mampu berinteraksi dengan lingkungan secara
baik. Minimal keberhasilan siswa dalam bentuk tercapainya mutu belajar yang
tinggi dan tidak mengalami permasalahan
dalam belajar
Dalam realitas di lapangan,
keterampilan belajar belum diperhatikan, belum dikuasai, dan belum dilakukan
siswa dengan baik. Hal ini mengindikasikan bahwa keterampilan belajar bagaimana
pun penting dan perlunya dalam belajar tetapi masih terbatas pada tataran
teori, belum menjadi prioritas dari pendidik untuk diberikan kepada siswa.
Apabila kegiatan belajar tidak didasarkan pada keterampilan akan membawa sederet persoalan dalam belajar,
baik ketika di sekolah, di rumah maupun ketika berinteraksi dengan lingkungan
sekitar mereka. Ujung dari semua itu dapat diramalkan bahwa siswa akan
mengalami kegagalan dalam memperoleh keberhasilan belajar bahkan dalam hidup
itu sendiri.
Keterampilan belajar juga harus dimiliki oleh siswa dalam rangka proses
pencapaian tujuan belajar berupa perubahan tingkah laku. Hal ini sesuai dengan
pendapat Sudjana dkk (1984) bahwa, belajar adalah suatu proses perubahan
tingkah laku, peristiwa belajar bukanlah menghafal atau hanya sekadar
mengingat, melainkan suatu kegiatan yang ditandai dengan adanya perubahan dalam
diri seseorang. Belajar juga dapat
diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku akibat adanya interaksi
individu dengan lingkungannya. Ahmadi
(1986) mendifinisikan belajar sebagai rangsangan kegiatan jiwa dan raga,
psikofisik menuju ke perkembangan pribadi individu seutuhnya yang menyangkut
unsur cipta, rasa dan karsa, ranah afektif, kognitif dan psikomotorik.
Kajian Teori
Belajar
dapat didefinisikan sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah
melalui latihan atau pengalaman, sebagaimana dikemukakan James O. Wittaker
(dalam Suryabrata. 1990), “Learning
may be defined as the process by which behavior originates or is altered
throught training or experience”. Dengan demikian, perubahan-perubahan
tingkah laku akibat pertumbuhan fisik atau kematangan, kelelahan, penyakit,
atau pengaruh obat-obatan adalah tidak termasuk sebagai belajar. Cronbach juga
menyatakan: “Learning is shown by change
in behavior as a result of experience.” (Cronbach, 1954: 47). Dengan
demikian, belajar yang efektif adalah melalui pengalaman. Dalam proses belajar,
seseorang berinteraksi langsung dengan objek belajar dengan menggunakan semua
alat indranya. Sedangkan Howard L. Kingsley (dalam Satmoko. 1999) menyatakan
sebagai berikut: “Learning is the process
by which behavior (in the broader sense) is originated or changed through
practice or training.” (Kingsley, 1957:12). Definisi tersebut dapat
diartikan, bahwa belajar adalah proses di mana tingkah laku (dalam artian luas)
ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau pelatihan.
Keterampilan belajar perlu dikuasai
siswa karena belajar merupakan kegiatan yang mempunyai tujuan. Tujuan belajar
menurut Wahono (1998:32) adalah untuk memperoleh pengetahuan, kecakapan,
pengalaman, dan sikap yang diperlukan
untuk kesuksesan hidup.
Keterampilan belajar dapat diartikan
sebagai seperangkat sistem, metode, dan teknik yang baik dalam usaha menguasai
materi pengetahuan yang disampaikan guru secara
tangkas, efektif dan efisien (Gie, 1995:13). Kegiatan belajar seharusnya
dilaksanakan dengan menerapkan berbagai keterampilan yang meliputi keterampilan
dasar membaca, menulis, menghitung, keterampilan mengikuti pelajaran di dalam
kelas, membuat catatan, bertanya, dan menjawab (baik lisan, maupun tulisan), mengerjakan tugas, membuat
laporan, menyusun makalah, menyiapkan dan mengikuti ujian, serta
menindaklanjuti hasil mengerjakan tugas, ulangan, atau ujian (Prayitno,
1988:8).
Bentuk-bentuk keterampilan belajar dalam
penelitian ini yang diharapkan dapat dikuasai siswa atau peserta didik, antara
lain: (1) keterampilan dasar/pokok, Lanner dalam Abdurrahman (1999:200)
menyebutkan bahwa keterampilan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai
bidang studi. Ellis (1978) menyatakan bahwa: from 75 percent of assigned school work requires go to read. Artinya
dari 75 persen kegiatan sekolah adalah membaca. (2) Keterampilan Akademik
Menurut Gie (1995:8) kewajiban utama dari
seorang siswa atau mahasiswa yang sedang studi adalah belajar karena
berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Masalah yang sering muncul
terkait dengan keterampilan mengikuti pelajaran menurut Prayitno dkk (1997.a:3)
bahwa secara khusus masalah yang sering muncul adalah kesulitan dalam
mempersiapkan kondisi fisik, tidak mempersiapkan bahan dan peralatan belajar,
tidak hadir dalam kuliah atau sering absen, memilih tempat duduk yang tidak
strategis, sukar bertanya, tidak
mengemukakan pendapat, dan catatan tidak lengkap (3) Keterampilan Pendukung
sebagai berikut: (a) Keterampilan dalam Meningkatkan Konsentrasi. Menurut
Ellis (1978:123) ada lima kebiasaan yang baik yang mesti dikembangkan
berdasarkan teori dan kajian tentang keterampilan dalam meningkatkan
konsentrasi. Kebiasaan tersebut adalah: Understand
the objective of what is being studied, Focus attention on the study materials,
Arrange contigencies of the reinforcement, Organize the materials, Practice
retrieval (b) Keterampilan dalam
Menghafal Pelajaran (c) Keterampilan dalam Mengelola Waktu Belajar
Keterampilan
belajar yang harus dimiliki oleh siswa dapat ddiusahakan melalui peran guru
pembimbing. Hal ini ddikarenakan guru pembimbing adalah guru yang mempunyai
tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh dalam kegiatan BK
terhadap sejumlah peserta didik, termasuk dalam memberikan layanan BK kepada
semua peserta didik di sekolah tempat dia bertugas dalam rangka mengantarkan
peserta didik tersebut mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara optimal.
Mortensen dan Schmuller (1964:200)
berpendapat bahwa terdapat lima tugas konselor sekolah, yaitu:
1.
Provinding
the students an oppurtunity to talk through his problems.
2.
Counseling
with potential droupouts.
3.
Counseling
with student concerning academic failure.
4.
Counseling
with students in evaluating personal assets and limitations and,
5.
Counseling
with students concerning learning difficulties.
Winkel (1985:167) melihat perlunya
kehadiran guru pembimbing di sekolah
terutama untuk mendampingi siswa agar lebih mampu dan lebih manusiawi, sehingga
ia menjadi warga sekolah yang lebih setia, dan anggota masyarakat yang berguna.
Selanjutnya, Prayitno dkk (1997.a:189-190) menyatakan bahwa tugas guru
pembimbing adalah: 1) memasyarakatkan pelayanan BK, 2) merencanakan program BK,
3) melaksanakan segenap program satuan layanan BK, 4) melaksanakan segenap
program kegiatan pendukung BK, 5) menilai proses dan hasil pelaksanaan satuan
layanan dan kegiatan pendukung BK, 6) menganalisis hasil penilaian layanan dan
kegiatan pendukung BK, 7) melaksanakan kegiatan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian layanan dan
kegiatan pendukung BK.
Terkait dengan tanggung jawab guru
pembimbing tersebut Erickson dalam Mortensen dan Schmuller (1964:204) mengemukakan bahwa kegiatan BK di
sekolah meliputi: Individual inventory,
the counseling, the information service, the placement service, and the followed service.
Berdasarkan pernyataan ini dapat diketahui bahwa pelayanan BK mencakup:
pengumpulan data individual, konseling, layanan informasi, layanan penempatan,
dan layanan tindak lanjut.
Dalam
pelaksanaan layanan pembelajaran khususnya berkenaan dengan keterampilan
belajar siswa di sekolah, guru pembimbing dan guru mata pelajaran dapat
menjalin kerjasama dalam mengadakan kegiatan yang langsung bersentuhan dengan
kebutuhan siswa.
Kegiatan layanan pembelajaran terutama
berkenaan dengan ketrampilan belajar kepada siswa seringkali belum dapat
berjalan sebagaimana yang direncanakan dengan berbagai alasan dan kendala baik
yang datang dari pihak guru pembimbing maupun siswa itu sendiri. Hambatan dari
pihak guru pembimbing antara lain adalah keterbatasan waktu, kemampuan dan
kemauan dan lain sebagainya, sedangkan kendala yang timbul dari siswa adalah
kurangnya minat dan motivasi dalam mengikuti layanan pembelajaran khususnya yang berkenaan dengan
keterampilan belajar serta keengganan siswa mengungkapkan permasalahan yang
berkenaan dengan keterampilan belajar kepada guru pembimbing.
Kendala lain yang mungkin timbul dalam
peningkatan keterampilan belajar siswa adalah adanya persepsi guru lain
terutama dalam hal ini guru mata pelajaran dan pihak lain yang terkait tentang
pentingnya keterampilan dan pengentasan masalah-masalah belajar dalam
meningkatkan hasil belajar siswa.
Permasalah dalam penelitian ini
adalah: 1) bagaimana mutu, masalah dan bentuk keterampilan yang dimiliki oleh
siswa, 2) apa keterampilan belajar yang dikembangkan guru pembimbing, dan 3)
bagaimana kerjasama da kendala yang ditemui
dalam peningkatan keterampilan belajar siswa.
Secara umum tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui bagaimana upaya guru pembimbing dalam meningkatkan
keterampilan belajar siswa. Sedangkan secara khusus penelitian ini bertujuan
untuk mendapatkan data tentang: 1) kualitas, permasalahan dan keterampilan
belajar yang dimiliki siswa, 2) keterampilan yang dikembangkan oleh guru
pembimbing, 3) kerjasama guru pembimbing dengan personil sekolah, 4) kendala
dan solusi yang dihadapi guru pembimbing.
Hasil penelitian ini diharapkan berguna
bagi: 1) kepala sekolah, untuk dapaat memberikan arahan dan kebijakan berkenaan
dengan pelaksanaan BK terutama berkenaan dengan keterampilan belajar, 2) guru
pembimbing, untuk lebih dapat mengembangkan keterampilan belajar kepada siswa
secara lebih memadai dan menjalin kerjasama dengan guru mata pelajaran dan
pihak sekolah lainnya dengan lebih baik, 3) siswa, untuk dapat lebih
menggunakan layanan BK secara lebih baik terutama dalam peningkatan
keterampilan belajarnya.
Metode
Penelitian
Penelitian ini dirancang dengan pendekatan
deskriptif yang menggambarkan fakta-fakta sesuai dengan keadaan objek penelitian yaitu upaya guru pembimbing
meningkatkan keterampilan belajar siswa. Keterampilan belajar tersebut adalah
meliputi keterampilan pokok, keterampilan akademik dan keterampilan pendukung
untuk memperlancar kesuksesan belajar. Sedang upaya guru pembimbing dalam
meningkatkan keterampilan belajar siswa ini meliputi, program yang disusun guru
pembimbing, kegiatan yang dilaksanakan dan keterampilan yang dilatihkan oleh
guru pembimbing terhadap siswa.
Populasi penelitian ini adalah seluruh
siswa kelas I, II, dan III, sebanyak 790 orang sebagaimana dan seluruh guru
pembimbing yang ada di SMA Negeri 4 Pekanbaru
berjumlah 4 orang. Sedangkan Jumlah sample adalah 139 dengan perincian
kelas 1.6 sebanyak 45 orang, kelas II.5 sebanyak 49 orang dan ke;as III IPS 2
sebanyak 45 orang. Sedangkan guru pembimbing yang dipilih sebagai sampel penelitian
ini adalah 4 orang.
Data penelitian ini dikelompokan kepada
dua jenis, yaitu data yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Data
kuantitatif diperoleh dari instrumen penelitian berupa AUM PTSDL Format-2 dan
angket yang diberikan kepada siswa. Data kualitatif diperoleh dari informan,
seperti informasi, keterangan dan
gagasan yang diperoleh melalui wawancara dengan guru pembimbing, guru mata pelajaran, wali kelas, dan
kepala SMA Negeri 4 Pekanbaru.
Untuk pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik AUM PTSDL Format-2 untuk siswa SLTA
dan memeriksa lebih lanjut butir-butir AUM PTSDL itu yang mengungkapkan
keterampilan belajar khususnya tentang skor kegiatan belajar siswa dan masalah
belajar siswa yang berkenaan dengan keterampilan belajar. Setelah dilakukan
pencermatan terhadap AUM PTSDL ditemukan sebanyak 75 butir item AUM PTSDL yang
berkaitan dengan keterampilan belajar.
AUM PTSDL Format-2 merupakan alat ungkap yang sudah baku dengan indeks
kesahihan (validitas) 0,86 artinya indeks
tersebut memperlihatkan tingkat kesahihan AUM PTSDL-2 tinggi. Demikian juga
dengan tingkat keterandalan (reliabilitas)
0,76. Artinya indek ini memperlihatkan tingkat keterandalan AUM PTSDL-2 juga
tinggi. Instrumen ini digunakan untuk
mengetahui skor mutu kegiatan belajar
siswa dan masalah belajar yang dialami siswa. Pemakaian AUM PTSDL sebagai
instrumen penelitian melalui izin dari penyusunnya yaitu Prayitno (1997). Izin
pemakaian AUM PTSDL dapat dilihat pada lampiran.
Butir-butir AUM PTSDL Format-2
untuk siswa SLTA jumlahnya 165 butir, terdiri dari bidang prasyarat penguasaan
materi pelajaran (P) sebanyak 20 butir, bidang keterampilan (T) sebanyak 75
butir, bidang sarana belajar (S) sebanyak 15 butir, bidang diri pribadi (D)
sebanyak 30 butir, dan bidang lingkungan
sosio-emosional (L) sebanyak 25 butir. Dalam penelitian ini yang diambil adalah
butir AUM PTSDL bidang keterampilan (T) sebanyak 75 butir.
Angket yang diberikan kepada
siswa untuk melihat kegiatan yang mereka lakukan maupun materi yang mereka
terima dari guru pembimbing berkaitan dengan keterampilan belajar yang
diberikan oleh guru pembimbing. Angket
ini berisi sejumlah pertanyaan yang disertai dengan alternatif jawaban yang
mana siswa diharapkan memilih jawaban sesuai dengan kondisi yang mereka alami
digunakan dalam mengumpulkan data kualitatif, dengan meminta penjelasan secara
lisan kepada guru pembimbing maupun guru lain, tentang upaya yang mereka
lakukan baik secara sendiri-sendiri maupun
melalui kerjasama dalam meningkatkan keterampilan belajar siswa di sekolah tersebut. Di samping itu
peneliti juga akan mengggunakan wawancara tidak terstruktur untuk mendalami
informasi yang telah didapatkan dengan mewawancarai informan berikutnya, yang
ditentukan berdasarkan informan sebelumnya.
Dokumen yang diperoleh dalam
penelitian ini, antara lain hasil pelaksanaan
layanan BK berupa satuan layanan
(sa tlan) satuan pendukung (satkung) yang dihimpun oleh guru pembimbing. Pengkajian terhadap
dokumen ini untuk mendapatkan data tentang siswa dan aktivitas belajarnya
melalui dokumen di sekolah. Sedangkan analisis penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan dua macam
teknik analisis, yaitu analisis statistik dan analisis naratif.
Hasil Penelitian
Mutu bidang keterampilan belajar yang dimiliki siswa yang
paling banyak berada pada skor 31 sampai dengan 40 sebanyak 27 (20 %) siswa.
Hal ini berarti bahwa mutu keterampilan
belajar siswa masih kurang. Berdasarkan pengolahan data terhadap 135 orang
siswa sebagai responden, diperoleh jumlah masalah tertinggi adalah 46 dan
jumlah masalah terendah 7, masalah belajar siswa bidang keterampilan belajar
sebanyak 20,74 %. Hal ini berarti bahwa masalah siswa bidang keterampilan
belajar tidak terlalu banyak. Seharusnya guru pembimbing melatihkan keterampilan belajar dengan lebih
banyak lagi sehingga masalah sisswa
bidang keterampilan belajar dapat hilang sama sekali.
Bentuk-bentuk keterampilan
belajar yang dimiliki siswa dapat diketahui
dari hasil pengadministrasian angket kepada siswa sebagaimana tabel di bawah ini:
Tabel
1. Bentuk Keterampilan Belajar Siswa
No |
Bentuk |
Aspek |
F |
%
|
|
1
|
Kegiatan dan
keterampilan belajar di dalam kelas
|
A. Mendengarkan uraian guru
B. Mencatat
dengan rapi
C. Mengajukan
pertanyaan
D. Menanggapi
gagasan teman
E. Menjawab
soal-soal
F. Merangkum
isi materi pelajaran
G. Memperbaiki
kekeliruan catatan
|
90
75
39
28
72
16
10
|
66,6
55,5
28,8
20,7
53,3
11,8
7,40
|
|
2
|
Kegiatan dan
keterampilan belajar di luar kelas
|
A. Mengelola
waktu belajar
B. Membuat
ringkasan buku yang dibaca
C. Mendiskusikan
pelajaran dengan teman
D. Meningkatkan
konsentrasi belajar
E. Mengulang
pelajaran
F. Membaca
buku
G. Les
H. Menterjemahkan
bahasa asing
|
39
32
60
62
18
12
9
7
|
28,8
23,7
44,4
45,9
13,3
8,8
6,6
5,1
|
Keterampilan
belajar yang dilatihkan oleh guru melalui tujuh jenis layanan bimbingan dan
konseling adalah sebagaimana table berikut:
Tabel
2. Jenis Keterampilan Belajar yang Dilatihkan Guru pembimbing
|
Aspek
|
Penjelasan
|
F
|
%
|
|
Keterampilan
belajar yang diberikan oleh guru pembimbing
|
A. Keterampilan
membaca
|
33
|
24
|
|
B. Keterampilan
berbahasa
|
53
|
39,2
|
|
|
C. Keterampilan
memahami bacaan
|
54
|
40
|
|
|
D. Keterampilan
bertanya
|
69
|
51,1
|
|
|
E. Keterampilan
Menjawab soal ujian
|
59
|
43,7
|
|
|
F. Keterampilan
menulis dan mencatat
|
50
|
37
|
|
|
G. Keterampilan
menangkap suatu gagasan
|
42
|
31,1
|
|
|
H.
Keterampilan berkonsentrasi
|
32
|
23,70
|
|
|
I.
Keterampilan membuat ringkasan
|
28
|
20,74
|
|
|
G.
Keterampilan menyusun
makalah
|
7
|
5,18
|
|
|
H.
Keterampilan menyelesaikan
masalah
|
4
|
2,96
|
Sekolah dalam meningkatkan keterampilan
belajar siswa, kerjasama yang diselenggarakan guru pembimbing dengan pihak
lain di sekolah, dapat diketahui pada tabel berikut ini.
Tabel
3. Kerjasama Guru pembimbing dengan Guru Mata Pelajaran dan Pihak Sekolah untuk
Meningkatkan Keterampilan Belajar Siswa
|
No
|
Bentuk
|
Aspek
|
F
|
%
|
|
1
|
Bentuk kerjasama guru pembimbing
dengan pihak lain untuk meningkatkan keterampilan belajar siswa
|
A.
Masuk lokal dg wali kelas
B.
Membuat program bersama untuk melatih
membaca cepat
C. Melibatkan GMP dalam menyusun program BK
D.
Guru pembimbing meninjau hasil belajar
siswa
|
18
4
50
15
|
13,3
2,9
37,03
11.1
|
cakupan, antara lain: 1) menciptakan lingkungan
belajar yang baik, 2) keterampilan pokok, yaitu keterampilan dalam membaca
buku, 3) keterampilan akademik, seperti keterampilan mengikuti pelajaran,
keterampilan mencatat, keterampilan menggunakan pustaka, dan keterampilan
menempuh ujian. 4) keterampilan pendukung, seperti keterampilan berkonsentrasi,
keterampilan mengulang pelajaran, dan keterampilan membagi waktu setiap hari.
Berdasarkan temuan di atas dapat diketahui bahwa kerjasama guru
pembimbing menurut siswa pada umumnya lebih banyak melibatkan guru mata
pelajaran dalam bentuk penyusunan program BK. Sedangkan hasil yang diperoleh
dari kerjasama tersebut lebih banyak dalam bentuk meningkatnya prestasi belajar
siswa.
Kendala yang ditemukan oleh guru pembimbing dalam melaksanakan dan
meningkatkan keterampilan belajar siswa
adalah keterbatasan guru pembimbing dalam memberikan layanan kepada siswa. Di
samping itu guru pembimbing juga mengalami kesulitan, antara lain 1) siswa
belum merasakan manfaat dari kegiatan tersebut. 2) guru pembimbing dalam melaksanakan tugasnya
lebih banyak menunggu dari pada mencari
siswa yang bermasalah pada keterampilan belajar. Terkait dengan peningkatan
keterampilan belajar maka upaya-upaya peningkatan efektifitas pelaksanaan
bimbingan keterampilan belajar terhadap siswa adalah: 1) meningkatkan sarana
dan prasarana, 2) Peningkatan profesionalisme guru pembimbing.
Simpulan dan Saran
Berdasarkan
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk keterampilan belajar yang
dimiliki siswa SMA Negeri 4 Pekanbaru dapat dilihat dari skor mutu kegiatan
belajar yang kebanyakan berada pada kolompok rendah dan masalah berada pada kelompok sedang.
Keterampilan belajar siswa lebih banyak
dalam bentuk mendengarkan uraian guru, meningkatkan konsentrasi dan
keterampilan bergaul, jenis keterampilan belajar yang diberikan dan dilatihkan
oleh guru pembimbing terhadap siswa telah mencakup ketrampilan pokok,
keterampilan akademik dan ketrampilan penunjang, namun volumenya masih terbatas
dan belum maksimal.
Kerjasama
guru pembimbing dengan guru mata pelajaran dan pihak lain telah dilaksanakan
terutama dengan guru mata pelajaran eksakta
yaitu matematika, fisika dan kimia dalam bentuk pengajaran perbaikan dan
remedial dengan memberikan ketrampilan
belajar tertentu untuk menguasai rumus-rumus dan juga dalam bentuk keterlibatan
dalam penyusunan program BK, namun kerjasama tersebut masih terbatas dan belum
terprogram dengan baik. Di samping itu, kendala yang dihadapi guru pembimbing
dalam meningkatkan keterampilan belajar siswa dapat dikelompokkan menjadi dua
macam yakni masalah yang datang dari guru pembimbing seperti adanya
keterbatasan waktu, kemampuan dan kemauan yang dimiliki guru pembimbing,
sedangkan masalah yang datang dari siswa adalah kurangnya minat dan kurang
aktif serta enggan membicarakan masalahnya dengan guru pembimbing. Untuk
mengatasi masalah tersebut guru pembimbing telah membuat berbagai kebijakan,
kerjasama dengan pihak lain yang terkait serta senantiasa mengasah kemampuannya
dalam memberikan pelayanan BK kepada siswa.
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka disarankan agar kepala sekolah, diharapkan untuk lebih
memperhatikan pelaksanaan BK di sekolah yang dipimpinnya terutama dalam
penyediaan dan pengadaan sarana-prasarana umumnya dan khususnya usaha dalam
peningkatan keterampilan belajar siswa. Selain itu, guru pembimbing diharapkan
untuk lebih memberikan keterampilan belajar kepada siswa secara lebih memadai
sehingga skor mutu belajar siswa meningkat dan masalah keterampilan belajar
siswa menurun atau bahkan bila mungkin siswa tidak bermasalah dan sedapat
mungkin bekerja sama, baik dengan guru mata pelajaran maupun pihak lain terkait
di sekolah dalam rangka meningkatkan keterampilan belajar siswa tersebut.
Daftar Pustaka
Abdurahman dan Mulyono. (1999).
Pendidikan bagi anak berkesulitan
belajar. Jakarta: Gramedia
Abu Ahmadi. (1986) Metode
khusus pendidikan. Bandung: Amrico
Cronbach. Lee J. (1954). Educational psychology. New Harcourt, Grace
Ellis. C.H.
(1978) Fundamental of human learning,
memory, and cognition. New York: Brown Company Publisher
Gie.T.L.
(1995). Cara belajar yang efisien: sebuah
buku pegangan untuk mahasiswa Indonesia ( jilid II) Yogyakarta: Liberty
Montensen D.G. dan Schemuller. A.M. (1964). Guidance in today’s school. New York: Mc
Milan Hill.
Nana
Sudjana. (1984). Proses belajar mengajar.
Jakarta: Bumi Aksara
Prayitno. (1988). Orientasi
bimbingan dan konseling. Jakarta: Depdikbud.
Prayitno, dkk.
(1997.a). Seri pemandu pelaksanaan
bimbingan dan konseling di sekolah. Jakarta: Ikrar Mandiri.
________. (1997.b).
Pedoman AUM PTSDL. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti
________. (1997.c). Seri latihan keterampilan belajar. Jakarta:
Tim Pengembang 3SCPD Proyek PGSM Dikti Depdikbud.
Satmoko. (1999). Psikologi tentang penyesuaian penyesuaian
dan hubungan kemanusiaan. Semarang: IKIP
Sumadi Suryabrata. (1990). Psikologi
pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Wahono Ahmadi. (1998). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
W.S Winkel. (1985) Bimbingan
dan konseling di sekolah menengah. Jakarta:
Gramedia
No comments:
Post a Comment